=SINOPSIS=
Kisah ini menceritakan tentang anak kos-kosan yang tinggal dikamar no. 3, mereka adalah sahabat yang selalu kompak dan setia kawan. Pada suatu ketika mereka bercanda ria dan bergurau satu sama lain. Pada suatu hari Anita jatuh cinta pada seorang lelaki yang bernama Roby dia sangat ngebet sekali pada cowok itu akan tetapi si-Anita tertutup tidak terbuka. Tapi akhirnya teman-teman kamarnya curiga karena Anita sering ngelamun dan tersenyum sendiri dan terjadilah guyonan dari teman- teman kamarnya. Dan Anita pun bercerita karena dirayu oleh teman-temannya, namun tanpa disangka-sangka diantara teman Anita ada yang juga suka kepada Roby. Dan dia marah mendengar penjelasan Anita, dia adalah Lila . Kemudian, terjadilah permusuhan diantara mereka berdua dan akhirnya mereka memilih persahabatan dari pada bermusuhan gara-gara lelaki.
TOKOH-TOKOH :
Peran utama : Anita, Roby
Peran pembantu : Lila, Imro, Lina, Rafli
Pada suatu hari yang cerah, di sebuah kos-kosan, kamar no. 3 terdengar perbincangan diselingi canda tawa.
Lina : Eh... tau gak sekarang tanggal berapa?
Imro : Ada apa kamu tanya-tanya tanggal emang ada yang penting tah..? (membolak-balik majalah yang dipegangnya)
Lina : Hemm, gak da apa-apa sih cuma nanya dah nipis nie uang jajan gue hampir ludes.
Lila : Sekarang tanggal 20 September... makanya jangan boros jadi orang itu, terus kalau sudah gini kamu pasti mau pinjam uang lagi yah ma aku... (tanpa mengalihkan pandangan dari komiknya)
Lina : Hehehe… kok tau... (dengan wajah polos)
Imro : Yah.. gimana gak tau, wong itu sudah jadi tradisi kamu kalau kirimanya habis pinjam ke Lila..
Lina : Yah kan gak papa aku ganti entar kalau udah dapet kiriman, lagian Lila kan uang jajannya banyak.
Lalu Anita yang tadinya tidur, bangun gara-gara perbincangan tersebut dan ikutan menyahut...
Anita : Yah, Lila kan anaknya juragan Bawang, jelas aja uangnya banyak! Kalo uangmu abis, kan tinggal minta ama bokap, beres, kan?? (melirik Lila)
Lila : Yah makasih ocehannya... Kalian sungguh baik. (sambil tersenyum sewot)
Dan beberapa hari kemudian disekolah...
Bruk..... (Anita tidak sengaja menabrak seorang laki-laki yang sedang membawa tumpukan kertas. Laki-laki itu tak lain adalah Roby)
Roby : Eh, kamu itu kalau jalan liat-liat napa sih.. gak punya mata yak?! (marah sambil membereskan kertasnya yang tercecer)
Dan Anita hanya bengong melihat Roby lagi marah pada dirinya...
Anita : Oooh iya iya, sorry kak, aku gak sengaja, soalnya aku tadi terburu-buru mau ke toilet. Maaf yah, kak.. maaf yah.... (kedua tangan ditangkupkan didepan dada minta ampun)
Roby : Makanya kalau jalan liat-liat napa jangan ngelamun terus entar kesambet setan lo.. dek. Ya sudah saya maafkan..
Anita : Eh BTW, kamu itu anak mana sih... kok aku baru sekarang liat kamu disekolah?
Roby : Oh... aku anak baru dek disini pindahan dari SMANSA Jombang.
Anita : Oh kamu anak baru yah disini kenalin aku Anita anak XI bahasa, kamu masuk dikelas mana? (menjulurkan tangan)
Roby : oh.. aku masuk di kelas XII IPS. Dek, maaf yah tadi marah-marah abiz kamu sih pke acara nabrak-nabrak segala. Sorry yah dek.. (membalas uluran tangan Anita)
Anita : Yah gak papa. Oh ya nama kamu siapa?
Roby : Namaku Roby dek,
Anita : Nama yang cakep, sama dengan orangnya cakep juga...
Roby : Yeah.. kalau bikin buat orang GR kamu pinter.. biasa aja dah dek, gak usah berlebihan.
Anita : Kalau emang kenyataanya cakep gimana?
Roby : Aduh... kok jadi panjang gombalnya dek, cukup yah soalnya aku mau masuk kelas gak enak kalau dilihat anak-anak yang lain.
Anita : Ya sudah.. GOOD LUCK yah, kak...
Roby : Assalamualaikum!
Anita : Walaikumsalam !
Didalam kelas, tanpa disadari Roby, ada sepasang mata yang mengintainya dari tadi.
Rafli : Woi, Raf! Siapa itu tadi? Kok kayaknya seneng sama kau?
Roby : Bukan siapa-siapa. Cuma adek kelas. Tadi dia keburu-buru sampe nggak liat ada aku didepannya. Awalnya aku marahin… (terdiam sejenak)
Rafli : Terus?
Roby : Yaa… terus enggak, kita saling maafan.
Rafli : Terus?
Roby : Terus, terus! Nabrak loe! (berlalu meninggalkan Rafli)
Rafli : Heh! Sini! Belum selesai, kok!! (menarik baju Roby) Kayaknya ada yang kamu sembunyiin dari kata-katamu…
Roby : Enggak, kok! Apaan sih?
Rafli : Bohong! Wajahmu merah itu!! Hahahaha!! Ketauan, udahlah gausa bohong lagi. Aku tau kok. Kamu suka anak tadi, kan?? Haha! Ayo ngaku! (menepuk pundak Roby)
Karena Roby tidak mau dibilang pengecut, dia mengakuinya…
Roby : Iya deh, iya. Puas loe sekarang??
Rafli : Hahaha.. nah gitu dong. Puas aku. Tapi… aku punya 1 pertanyaan lagi. Baru kamu boleh pergi.
Roby : Apaan?
Rafli : Kenapa kamu bisa suka sama dia? Padahal baru pandangan pertama.
Roby : Ah, apaan sih loe? (berbalik meninggalkan Rafli)
Rafli : Eiiitts… Mau kemana? Jawab dulu! (sigap menarik baju Roby)
Roby : Oke, oke. Ini yang terakhir, oke??
Rafli : Okelah…
Roby : Kalo aku lihat dari wajahnya, dia imut, nggak cantik emang. Tapi ada faktor X yang begitu kuat dan menarikku padanya. (sambil membayangkan Anita)
Rafli : Udah kamu tembak?
Roby : Belum. Masih nunggu waktu . Hehehe…
Dan mereka masuk kedalam kelas. Bel tanda pulang pun berdering menandakan KBM telah selesai.. Anita pulang ke kos-kosan duluan. Ia tak henti-hentinya menebar senyum kemana-mana. Sampai didalam kamar pun ia masih tersenyum-senyum sendiri.
Anita : (bergumam) “seandainya aku bisa punya pacar seperti Roby alangkah indahnya dunia ini”
Selama berhari-hari, Anita berusaha meluangkan waktunya untuk mengunjungi Roby di kelasnya. Karena Roby yang memintanya, ia tdiak sanggup menolak. Suatu hari, Roby menembaknya. Hubungan mereka berjalan dengan baik. Anita belum menceritakan kepada para sahabatnya. Sampai suatu siang pulang sekolah….
Lila : Eh... Im, Anita kenapa yah dari kemarin-kemarin aku perhatiin dia jarang makan dan cuma tersenyum sediri dan ngelamun?
Imro : Mungkin dia kerasukan jin kali’atau belajar akting teater? Dia kan ratunya teater sekolah kita…
Lila : Hah jaman sekarang masih percaya yang begituan, enggak lah mungkin dia lagi jatuh cinta kali’. Masak sih orang teater bisa jatuh cinta?
Imro : Ialah kan wong teater juga manusia. Biar nggak penasaran kita tanyakan yuk...
Mereka berjingkat mendekati Anita, agar tak membuyarkan lamunan Anita dan bermaksud mengagetkannya.
Imro , Lila : Duar!!!...ayo kenapa ini kok ngelamun sendirian sambil senyun-senyum?
Anita : Ah.. kalian ini kagetin aku aja. Gak ada apa-apa kok..
Imro : Masak sih..
Anita : Iya gak ada apa-apa.
Lila : Tapi kenapa kamu tersenyum sendirian? lagi jatu cinta yah..... (menggoda Anita)
Anita : Kamu ini kalau disuruh neliti orang, pinter... kalo emang iya kenapa ayo??
Imro : Yah gak papa, tapi ratu teater sekolah kita ini jatuh cinta sama siapa yah, Lil??
Lila : Sama siapa, Nit??
Anita : Eh.. kok jadi wawancara sih…
Imro : Anita.. cerita kenapa sih ma kita, barang kali kita bisa bantu kamu?
Anita : Tapi janji yah jangan gosipin aku, soalnya aku paling anti ma gossip apalagi kalau sampai kedengngeran Puri Sang Ratu Gosip sekolah kita itu...
Anita menceritakan apa yang sedang terjadi kepada dirinya.
Lila : Apa??!! Roby??!! (wajah Lila berubah jadi merah dan marah)
Eh..kamu itu gak tau terima kasih yah.. udah aku baik-baikin jadi teman eh, malah mau ngambil orang yang aku sukai.... (suara tinggi dan keras)
Anita : Lho? Emang kamu apanya dia kok jadi sewot begitu? (tak kalah keras)
Lila : Memang aku bukan siapa-siapanya dia tapi aku lebih dulu PDKT ama tuh anak... enak aja kamu ini..
Anita : Terus mau kamu apa?? Kamu gak bisa rebut Roby dari aku gitu aja. Kalo kamu mau, kita kompetisi. Atau…. kamu ngalah aja deh. Karena aku tau kamu gak bakalan menang dari aku. (dengan nada tinggi, sambil menunjuk-nunjuk wajah Lila)
Tanpa banyak bicara Lila telah menampar pipi Anita dan begitu juga sebaliknya dilanjutkan dengan jambak-jambakan disertai teriakan-teriakan kesakitan khas wanita. Perkelahian itu masih berlanjut. Imro tidak bisa melerai keduanya. Karena keduanya memiliki ego yang sangat tinggi.
Imro : Udahlah, rek!! Kita ini sahabat! Sudah seperti sodara sendiri…. (omongannya terputus)
Lila : Sodara, sodara, apamu?! Aku nggak bisa sodaraan sama orang kayak gini! (tangan kiri tidak melepaskan jambakannya ke rambut Anita dan tangan kanan menunjuk muka Anita)
Anita : Rasain kamu!! (memperkuat jambakannya)
Imro : He!! Kalian nggak dengerin aku?! Bukannya kita dulu udah berjanji untuk menyelesaikan semuanya bersama, tanpa ada perkelahian, apalagi kayak gini??!! (Suaranya tak kalah keras sambil berusaha menjauhkan keduanya)
Keduanya terdiam… mereka seperti berusaha mengingat semuanya, namun, beberapa detik kemudian, mereka melanjutkan aksi mereka.
Imro : Astaghfirullah, reekkk!!! Kedengeran seisi rumah tau gak sih?! Gimana kalo tetangga yang denger? Gak malu apa kalian?? (sambil mengurut dada dan memisahkan mereka lagi)
Anita : Biarin! Biar semua orang tau kalo dia ini suka ngerebut pacar orang!! (menunjuk wajah Lila)
Lila : Heh! Apamu?! Ngaku-ngaku pacar, jadian aja belum!
Anita : Udah, tauk!!
Lila : Bohong!! Kapan?! Mana buktinya?! (melepaskan jambakan, membentak Anita)
Anita : Oia, maaf, aku belum cerita semua ini sama kalian. (sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam laci mejanya). Sebenernya, aku udah jadian sama Roby nggak lama setelah perbincangan kita dikamar tentang Lina yg boros dan selalu pinjam uang ke Lila kalau uangnya sudah habis. Dan… ini buktinya kalo dia udah nembak aku. (menunjukkan sesuatu tadi yang berupa tanda hati dari Roby)
Lila : Oh, jadi gitu, ya? Pinter kamu nggak bilang-bilang sama kita. Kamu ini sahabat bukan sih? Kalau sahabat, harusnya kita itu saling sharing dan terbuka. Bukan macam ini!! (membentak sewot, berdiri)
Imro : Udahlah, Lil. Jangan mulai lagi… Anita udah dingin kok kamu manas lagi…
Lila : Biarin! Sahabat macam apa dia itu?! Pasti dia yg ngerasuki Roby.
Anita : Heh! Jangan sembarangan ya!! Aku nggak tau dan pas itu hanya insiden tabrakan aku dan dia. Setelah insiden itu, dia minta aku terus datang ke kelasnya kalau ada waktu luang.
Lila : Kenapa nggak kamu tolak?!
Anita : Awalnya aku tolak, tapi dia terus memohon padaku. Aku jadi nggak sanggup nolak. Lagian, pas itu aku udah suka sama orangnya. (tenang)
Lila : Errrhh, kamu ini!! Putusin, gak?!
Anita : Nggak mau. Weekk!! (menjulurkan lidah)
Selama setengah jam mereka adu mulut seperti itu, dan Imro sudah kewalahan melerai mereka, Imro memutuskan untuk menelepon Lina yang nggak pulang-pulang karena ada urusan OSIS. Setelah dipaksa, akhirnya Lina meminta diri ke OSIS untuk pulang.
Lina : Lho ini kok jadi bertengkar sih... kedengeran sampai luar loh. Masak gara-gara laki-laki kalian jadi gelap mata. Gila apa... cowok itu banyak! Gampang dicari! Tapi sahabat? Susah mencari orang-orang seperti kalian. Kita sudah dipersatukan seperti ini sama Allah, jangan jadi orang bodoh dengan bertengkar seperti ini. Kalian ini udah kelas XI seharusnya bisa belajar dewasa. Ya sudah ayo berdamai. Dan lupakanlah cowok itu, sekarang tugas kalian sebagai pelajar ya belajar. Bukan pacaran.
Mereka berdua terdiam sejenak.
Anita : Nggak bisa dong, Lin!! Ini urusan pribadi yang nggak bisa disangkut-pautkan sama belajar. Aku bisa ngatur waktu kok. Lagian, yang ditembaknya kan aku, bukan dia. (menunjuk Lila)
Lina : Aduuuhh… kalau gini terus, gak ada yang mau ngalah, semaunya sendiri, bisa hancur dunia. Maafan nggak? Ayo! Kalo nggak maafan, salah satu dari kalian harus keluar dari kos-kosan ini. Cari kos-kosan lain yang aku tau presentasenya sangat kecil untuk kalian dapatkan karena sekarang masih awal-awal tahun ajaran.
Hening…
Lina : Loh, kok diem? Cepetan ambil keputusan. Sudah malam ini.
Hening….
Lina : Aku tahu kalian merasa berat dengan sebuah perpisahan. Apalagi kita udah dari SMP bersama. Aku tau, sehebat apapun pertengkaran yang ada, sebenci apapun kalian terhadap kelemahan salah satu dari kita, didalam hati kalian masih tersimpan rasa sayang, saling memiliki, sebuah persaudaraan, dan nggak mau kehilangan. Harusnya kalian bisa ngatasi ini. Nggak perlu tengkar kayak gini. Rasa yg diikhlaskan. Mnjadi tameng yg kuat untuk melawan rasa rindu. Membiarkan orang yang kita sukai bahagia, lebih bijaksana dari pada terus mengejar tak jlas
Hening. Namun ditengan keheningan ini terdapat 2 cewek yang sedang berpikir keras. Lina benar, sehebat apapun guncangan, badai yang menerpa mereka, mereka tetap tidak sanggup untuk berpisah.
Anita : Baiklah, aku ngalah. Rek, maafkan kesalahanku, khususnya buat kamu, Lila, kalau kamu masih suka sama Roby, ambil aja. Aku mau putus sama dia.
Lila : Iya, rek, maafkan aku juga. Nit, kamu nggak perlu mutusin dia. Aku nggak minta kamu mutusin dia lagi, kok. Semua yang dikatakan Lina benar. Cowok, gampang dicari, namun sahabat seperti kalian… tidak ada yang bisa menyamai kalian… Aku sayang kalian, maaf, aku tadi khilaf. (menenggelamkan muka ke bantal yang dipegangnya dalam-dalam, menangis)
Anita : Sudahlah, Lil, nggak papa kok. Aku udah ngelupain yang terjadi barusan. Membiarkannya hilang ditelan waktu… (duduk disebelah Lila dan menepuk bahunya)
Lila : Nggak, Nit, rasanya aku jahat banget.… (tetap di bantal)
Anita : Haassshhh… jangan ditu dong. Qt sahabat, aku udah maafin kamu kok. Sekarang, tenang aja, ayo cuci muka kamu dan tersenyum lagi (tersenyum tulus)
Imro dan Lina yang melihat keduanya hanya diam dan tersenyum melihat kedua makhluk cantik yang baru berselisih dan sudah baikan kembali. Kemudian Lila menuruti saran Anita untuk mencuci mukanya. Setelah Lila kembali, mereka kembali bermaafan, kemudian berpelukan, sebelum tidur, mereka berjanji untuk menyelesaikan masalah sehebat apapun bersama dengan kepala dingin.
0 komentar:
Posting Komentar